Ilustrasi lima menara masjid saat fajar di atas danau

Situs resmi · Penulis Indonesia

A. Fuadi

“Man jadda wajada”

Dari kampung di tepi Danau Maninjau, ke pondok di Jawa, lalu ke berbagai negeri. Cerita-ceritanya tentang pendidikan, perantauan, dan keberanian bermimpi.

Mini biografi

Lahir di Bayur, Maninjau · Alumnus Pondok Modern Gontor · Wartawan · Penerima beasiswa Fulbright dan Chevening

A. Fuadi lahir dan besar di Bayur, sebuah kampung kecil di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat. Masa remajanya ia habiskan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, tempat ia pertama kali mengenal kalimat yang kelak jadi napas tulisannya: man jadda wajada.

Selepas pondok, ia menempuh kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, lalu masuk dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai wartawan majalah TEMPO dan koresponden Voice of America, sebuah jalan yang membawanya meliput dari banyak negara.

Kesempatan belajar di luar negeri datang lewat beasiswa, di antaranya Fulbright ke Amerika Serikat dan Chevening ke Inggris. Pengalaman merantau itu menjadi bahan mentah bagi novel-novelnya dan buku panduan beasiswanya.

Novel pertamanya, Negeri 5 Menara (2009), menjadi salah satu novel Indonesia paling banyak dibaca pada masanya dan diangkat ke layar lebar. Bersama karya-karya berikutnya, ia dikenal sebagai penulis yang menulis tentang pendidikan, perantauan, dan keberanian bermimpi.

Karya paling dikenal

01

Negeri 5 Menara

2009 · Gramedia Pustaka Utama

Man jadda wajada — siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Alif Fikri baru saja lulus madrasah tsanawiyah di Bayur, kampung kecil di tepi Danau Maninjau. Ia bercita-cita masuk SMA lalu kuliah teknik seperti idolanya, tetapi amaknya meminta ia melanjutkan sekolah agama. Dengan hati setengah rela, Alif berangkat ke Pondok Madani di Jawa Timur.

Di sana ia bertemu lima sahabat dari berbagai penjuru Nusantara: Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso. Mereka biasa berkumpul di bawah menara masjid sambil menatap awan dan membayangkan negeri-negeri yang kelak ingin mereka datangi.

Kalimat pertama yang diajarkan di kelas — man jadda wajada — menjadi mantra yang menemani mereka melewati disiplin pondok, ujian, kerinduan pada rumah, dan pencarian jati diri.

  • ◆Novel pertama A. Fuadi dan karyanya yang paling dikenal luas.
  • ◆Diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada 2012.
Selengkapnya tentang buku ini →

Katalog

Semua buku

Lihat halaman buku →

Dari halaman-halaman

Kutipan pilihan

“Man jadda wajada — siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.”
Negeri 5 Menara
“Man shabara zhafira — siapa yang bersabar, dia akan beruntung.”
Ranah 3 Warna
“Man saara ala darbi washala — siapa yang berjalan di jalannya, dia akan sampai.”
Rantau 1 Muara